KUMPULAN BERITA / KEGIATAN STAKLIM SEMARANG

Semarang, 10 Juli 2019  –  Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tahap 3 Stasiun Klimatologi Semarang, yang diadakan dilaksanakan di area persawahan Desa Tegalsari, Kec. Kedu, Kabupaten Temanggung resmi ditutup oleh Kepala BMKG Ibu Dwikorita. Kegiatan yang mengusung tema yaitu “Dengan SLI kita tingkatkan kemampuan petani dalam mengantisipasi iklim ekstrim untuk mendukung ketahanan pangan” ini dihadiri oleh Anggota Komisi V DPR RI, Deputi Klimatologi BMKG yang diwakili oleh Kepala Pusat Layanan Informasi Iklim Terapan BMKG, Kepala BBMKG Wilayah II, Bupati Kabupaten Temanggung Muhammad Al Khadziq, Kadis Pertanian dan Pangan, Dandim Temanggung, Kapolres Temanggung, Camat Kedu, Kepala desa Tegalsari serta para Kepala UPT di Lingkungan BMKG Jawa Tengah.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengatakan bahwa sejak tahun 2011 pemerintah memandang perlu menyikapi tantangan iklim ekstrim terkait dengan ketahanan pangan nasional, sehingga diterbitkanlah Instruksi Presiden No 5/2011 tentang "Pengamanan produksi beras nasional dalam menghadapi kondisi iklim ekstrim" yang melibatkan 36 Kementerian/Lembaga di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/Kota.

"Terkait hal tersebut BMKG bertugas memberikan informasi peringatan dini iklim ekstrim serta mendiseminasikannya ke instansi terkait, khususnya Kementerian Pertanian. Mandat tersebut diperkuat dengan pencanangan Nawacita juga menekankan pentingnya Kemandirian Negara dalam swasembada pangan oleh Presiden Joko Widodo." ungkap Dwikorita.

Lanjut Dwikorita, BMKG sejak tahun 2011 telah menyelenggarakan kegiatan SLI secara bertahap di provinsi sentra pangan Indonesia sebagai bentuk pendekatan literasi iklim guna mengurangi resiko iklim ekstrim.

Literasi tersebut kata Dia berupa pelatihan dalam bentuk konsep dan praktek/simulasi yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keaksaraan petani tentang isi informasi iklim dan pemanfaatannya di bidang pertanian.

Dalam kegiatan SLI tahap 3 ini, para kelompok tani dibimbing untuk menerapkan pola bercocok tanam berdasarkan saran dan rekomendasi penyuluh lapang pertanian. Ada dua varietas padi yang digunakan, yaitu Padi Situ Bagendit dan Ciliwung. Mereka juga dibekali info kondisi iklim yang sedang terjadi pada satu musim tanam dari tim BMKG. Evaluasi pun rutin dilakukan setiap 10 hari (1 dasarian) untuk memonitor kondisi tanaman dan pertumbuhan hama sesuai dengan data lapang iklim.

Dalam proses budidayanya, terdapat beberapa hama penyakit yang menyerang berupa belalang, walang sangit, blast, jamur, ulat daun, penggerek batang, wereng hijau, tikus dan burung emprit. Dari beberapa hama penyakit tersebut, hampir semua bisa teratasi sesuai arahan PPL dan POPT. Beberapa hama menggunakan perlakuan khusus dalam pengendaliannya. Hama Tikus dengan pemasangan Trap Barrier System (TBS) berupa mulsa plastik yang dilengkapi perangkap. Sementara hama burung emprit dengan menggunakan jaring. Kerusakan terbesar diakibatkan oleh hama burung yang menyebabkan kerusakan kehilangan bulir padi hampir 10%.

Dwikorita menjelaskan berdasarkan 3 (tiga) sampel ubinan yang telah dilaksanakan oleh BPS Kabupaten Temanggung, diperoleh hasil pertanian terendah sebesar 6.2 Ton/Ha dan tertinggi sebesar 7.8 Ton/Ha dengan rata-rata produktivitas adalah 6.8 Ton/Ha.

Mengingat beberapa serangan hama yang pernah terjadi, imbuh Dwikorita apabila dibandingkan dengan Tahun 2018, hasil produktivitas Sekolah Lapang Iklim BMKG masih lebih tinggi dari rata-rata Kabupaten sebesar 6.2 Ton/Ha dengan kenaikan produksi 9.7% dan rata-rata Kecamatan sebesar 6.1 Ton/Ha dengan kenaikan produksi 11.5%.

Dwikorita menuturkan Dari beberapa kegiatan SLI Tahap 3 secara nasional menunjukkan peningkatan produktivitas pertanian hingga 30% dibandingkan rata-ratanya. Hal ini menunjukkan adanya manfaat dari kegiatan SLI terhadap aktivitas kelompok tani, dan pertanian nasional secara umum.